Selasa, 06 Mei 2014

RENUNGAN 001

PASKAH UNTUK MEMPERKAYA DIMENSI IMAN
Ir. N. Eka Pradana, M.Th. 

Sejarah kekristenan telah melewati ratusan generasi ke generasi, ribuan tahun dan tempat dan jutaan keluarga di muka bumi ini.  Kekristenan bukan hanya sebagai suatu agama namun juga sebagai suatu peradaban yang berpusatkan pada Yesus telah mewarnai dunia ini sedemikian rupa dengan keunggulan nilai-nilai moral ajaran-Nya dibanding dengan ajaran moral lainnya. Meskipun muncul tantangan dari berbagai peradaban yang telah muncul sebelum dan sesudah kekristenan namun pengaruh Kristus semakin nyata dalam sejarah kehidupan manusia.

Kekristenan bukan hanya telah berhasil mempengaruhi peradaban manusia namun disisi yang lain sebagai konsekuensi logis hadir di tengah-tengah peradaban maka kekristenan juga terpengaruh oleh peradaban manusia.  Munculnya berbagai ajaran sesat baik didalam maupun di luar kekristenan sejak awal berdirinya hingga saat ini telah membuat sibuk para teolog untuk mempertahankan dan membuktikan kebenaran dari ajaran Kristen. Serangan utama terhadap pokok-pokok iman Kristen selalu berpusat pada ketuhanan dan kemanusiaan Yesus. Karena disinilah inti iman Kristen yang sesungguhnya.

Ajaran sesat yang menyerang kemanusiaan dan ketuhanan Yesus terutama yang nyata dalam gnostikisme (abad 2), arianisme (abad 4) , socianisme (Abad 16), ajaran tersebut secara masif menolak kenyataan inkarnasi ketuhanan Yesus sebagai Anak Allah yang menjadi manusia.  Jadi bila dikemudian hari ada ajaran lain yang selalu mengajarkan bahwa Yesus bukan Tuhan, bahwa Alah tidak memperanakkan dan diperanakkan pasti bersumber pada ajaran sesat tersebut diatas. Ketiga –isme sesat ini telah menjadi dasar dari semua ajaran sesat pada masa selanjutnya hingga masa modern ini ( seperti yang nyata dalam pengajaran Teologi Liberal dan  Jesus Seminar).

Kita sebagai pengikut Kristus yang mengaku bahwa Yesus adalah Allah sejati dan manusia sejati memiliki kewajiban untuk mempertahankan iman kita kepada mereka yang menuntut pertanggungjawaban atas iman kita tersebut. “... Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”  (1 Petrus 3:15,16).  Pergumulan secara umum setiap orang Kristen di Indonesia adalah bagaimana mempertahankan iman kepada Kristus di tengah-tengah mayoritas mereka yang tidak mengakui ketuhanan Kristus.  Namun iman tanpa pergumulan tidak akan pernah menghasilkan iman yang teruji dan murni.

Peristiwa Paskah adalah peristiwa yang paling sempurna untuk belajar tentang ketuhanan dan kemanusiaan Kristus.  Ketuhanan-Nya nyata melalui kebangkitan Yesus atas kematian dan disusul dengan kenaikan-Nya ke sorga.  Kemanusiaan-Nya terbukti dengan kematian-Nya di kayu salib dan dengan dibaringkannya jasad-Nya dikubur yang belum digunakan sebelumnya.  Melalui peristiwa Paskah,  kita wajib  terus menggali arti dan makna peristiwa tersebut untuk memperdalam dimensi iman kita kepada Kristus.

Penderitaan dan Kematian Kristus
Semenjak penangkapan-Nya di taman Getsemani, secara teknis Yesus telah mengakhiri pengajaran-Nya kepada murid dan pengikut-Nya, namun secara praktis Yesus sedang memberi pengajaran melalui perbuatan-Nya.   Meskipun kemudian dalam perjalanan-Nya menuju kayu salib dan diatas kayu salib ada perkataan-perkataan yang diucapkan-Nya namun itu lebih bersifat suatu pernyataan dari kesejatian kemanusiaan dan ketuhanan-Nya.  Sebelum kita menggali arti teologis dari pernyataan sikap Yesus dalam penderitaan-Nya, kita akan terlebih dahulu, mari kita terlebih dahulu memaknai sikap diam Yesus dalam menghadapi penderitaan-Nya.

Dia Bersikap Diam Menghadapi Penderitaan (Matius 26:63)
Yesus mengambil sikap untuk diam ketika penderitaan menuju salib dimulai.  Sebenarnya Yesus tidak diam sepenuhnya namun Yesus enggan untuk beradu argumentasi seperti layaknya dalam suatu suasana peradilan.  Yesus mengetahui bahwa Dia tidak dapat dipersalahkan (Mat. 26: 59-60). Yesus sadar bahwa Dia harus meminum dari cawan yang telah ditetapkan Bapa bagi Dia. Dia melakukan dengan penuh taat.  Apa yang dialami-Nya bukan dari akibat dari persengkokolan jahat oknum-oknum Mahkamah Agama Yahudi tetapi sebagai konsekuensi logis dari misi Allah bagi keselamatan umat manusia yang dikasihi-Nya.  Rencana keselamatan Allah harus terlaksana di jalan derita dan berakhir di bukit Golgota.

Sikap diam Yesus menjadi momen yang penting dalam pergumulan iman setiap orang Kristen.  Ketika kita menghadapi pergumulan demi pergumulan secara umum maka kita akan segera bereaksi secara negatif.  Kita akan menyalahkan baik diri sendiri maupun orang lain atas pergumulan yang terjadi.  Pergumulan kita bisa bisa berbeda-beda namun kita memiliki kemiripan dalam bereaksi.

Belajar dari Yesus, bahwa tidak ada satupun perjalanan hidup kita yang tidak diketahui oleh Allah sendiri.  Allah mengetahui, seolah-olah Allah membiarkan namun Dia tanpa kita mengetahui danmenyadarinya Dia ada di dekat dan sangat dekat kita ketika pergumulan itu datang.  Kesadaran inilah yang membuat Yesus memilih untuk diam tidak bereaksi secara membabi buta meskipun Dia mengetahui kematian telah menunggu beberapa jam ke depan. Bukan pasrah secara pasif dan tiada daya tetapi oleh karena iman yang yang tak tergantikan oleh apapun. Kita bisa membandingkan dengan sikap diam  Abraham saat Allah meminta dia untuk mempersembahkan Ishak (Kej.22:1-19).  Pengakuan akan kedaulatan Allah atas keberlangsungan alam semesta dan manusia (Kis. 4:24) telah memampukan Yesus untuk mengambil sikap diam menghadapi penderitaan menuju salib. 

Bersikap diam adalah pilihan terbaik ketika perjalanan hidup kita tidak seperti yang kita harapkan dan inginkan.  Ketika semua pintu tertutup dan segala usaha menemui jalan buntu serta semua teman meninggalkan kita, itu berarti kita sedang menghadapi pergumulan yang harus kita akui bahwa sebenarnya kita tidak tahu mengapa hal itu menimpa kita. 

Bersikap diam itu dimulai dari pemikiran tentang hubungan kita dengan Allah.  Pengetahuan kita tentang Allah sangat menentukan sikap kita dalam hidup ini.  Jika kita menganggap Allah tidak mampu menolong kita maka kita tidak akan pernah memohon pertolongan-Nya.  Jika Allah yang kita sembah adalah Allah yang jauh, tidak peduli, maka kita enggan untuk diam menanti tangan-Nya terulur atas kita.  Perjalanan pengenalan akan Allah menjadi sangat penting dalam hidup kita, hingga kita mampu berada dalam satu titik pengenalan seperti pengenalan Abraham tentang Allah bahwa Allah yang kita sembah adalah Yehova Jireh (Allah yang menyediakan).  Tidak mungkin kita akan berada di titik pengenalan tersebut bila tanpa kerelaan dan keberanian untuk menghadapi melewati pergumulan.   


Disinilah pentingnya memiliki pengetahuan tentang Allah yang benar.  Pemahaman yang seharusnya yang sesuai dengan pemahaman Alkitab tenatng Allah bukan hanya berkenan di hadapan Allah namun sangat berguna dalam menghadapi pergumulan demi pergumulan.  Pengaruh ajaran sesat yang menekankan rasionalitas dan humanitas yang menitikberatkan iman pada kemampuan dan keunggulan manusia, hanya menimbulkan keangkuhan diri namun tanpa kuasa dalam menghadapi pergumulan iman.  Bersikap diam percaya kepada pribadi Allah yang berkuasa dengan perspektif yang benar itulah yang akan memampukan kita menghadapi berbagai tantangan dan pergumulan dalam hidup kita.  

Perayaan Paskah telah berlalu dan sebentar lagi kita menyambut perayaan Kenaikan Yesus, kebangkitan-Nya telah mengubah sejarah dunia sedemikain rupa.  Tarik menarik  antara Christocentris dengan Anthropocentris telah dan akan terus berkumandang dalam dunia ini. Sikap diam dalam menyikapi kesukaran hidup bukan berarti menganut prinsip let go, let God, atau pasrah karena kebenaran tidak dapat ditemukan yang akhirnya  memunculkan subyektifitas.  Salib bukanlah suatu gagasan atau ide teologis. Penolakan terhadap salib adalah sama dengan penolakan terhadap kesaksian tentang Allah yang menjadi manusia dalam Yesus Kristus.  Salib adalah bukti Christocentris dan inilah yang harus tetap dipertahankan dan dijaga.  Sambil terus menapaki hidup dengan memikul iman yang semakin tidak mudah, mari terus dengan hidup dengan diam dan rendah hati serta menunjukkan kasih yang murni dan terus berdoa agar Yesus tetap menjadi pusat hidup kita.

Selamat menyongsong perayaan Kenaikan Yesus !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar