PASKAH UNTUK MEMPERKAYA DIMENSI IMAN
Ir. N. Eka Pradana, M.Th.
Sejarah
kekristenan telah melewati ratusan generasi ke generasi, ribuan tahun dan
tempat dan jutaan keluarga di muka bumi ini.
Kekristenan bukan hanya sebagai suatu agama namun juga sebagai suatu
peradaban yang berpusatkan pada Yesus telah mewarnai dunia ini sedemikian rupa
dengan keunggulan nilai-nilai moral ajaran-Nya dibanding dengan ajaran moral
lainnya. Meskipun muncul tantangan dari berbagai peradaban yang telah muncul sebelum
dan sesudah kekristenan namun pengaruh Kristus semakin nyata dalam sejarah
kehidupan manusia.
Kekristenan
bukan hanya telah berhasil mempengaruhi peradaban manusia namun disisi yang
lain sebagai konsekuensi logis hadir di tengah-tengah peradaban maka
kekristenan juga terpengaruh oleh peradaban manusia. Munculnya berbagai ajaran sesat baik didalam maupun
di luar kekristenan sejak awal berdirinya hingga saat ini telah membuat sibuk
para teolog untuk mempertahankan dan membuktikan kebenaran dari ajaran Kristen.
Serangan utama terhadap pokok-pokok iman Kristen selalu berpusat pada ketuhanan
dan kemanusiaan Yesus. Karena disinilah inti iman Kristen yang sesungguhnya.
Ajaran
sesat yang menyerang kemanusiaan dan ketuhanan Yesus terutama yang nyata dalam gnostikisme (abad 2), arianisme (abad 4) ,
socianisme (Abad 16), ajaran tersebut secara masif menolak kenyataan
inkarnasi ketuhanan Yesus sebagai Anak Allah yang menjadi manusia. Jadi bila dikemudian hari ada ajaran lain
yang selalu mengajarkan bahwa Yesus bukan Tuhan, bahwa Alah tidak memperanakkan
dan diperanakkan pasti bersumber pada ajaran sesat tersebut diatas. Ketiga –isme sesat ini telah menjadi dasar dari
semua ajaran sesat pada masa selanjutnya hingga masa modern ini ( seperti yang nyata dalam pengajaran Teologi
Liberal dan Jesus Seminar).
Kita
sebagai pengikut Kristus yang mengaku bahwa Yesus adalah Allah sejati dan
manusia sejati memiliki kewajiban untuk mempertahankan iman kita kepada mereka
yang menuntut pertanggungjawaban atas iman kita tersebut. “... Dan siap sedialah pada segala
waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta
pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi
haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni,
supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus,
menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”
(1 Petrus 3:15,16). Pergumulan secara umum setiap orang Kristen
di Indonesia adalah bagaimana mempertahankan iman kepada Kristus di
tengah-tengah mayoritas mereka yang tidak mengakui ketuhanan Kristus. Namun iman tanpa pergumulan tidak akan pernah
menghasilkan iman yang teruji dan murni.
Peristiwa Paskah adalah peristiwa yang paling sempurna untuk
belajar tentang ketuhanan dan kemanusiaan Kristus. Ketuhanan-Nya nyata melalui kebangkitan Yesus
atas kematian dan disusul dengan kenaikan-Nya ke sorga. Kemanusiaan-Nya terbukti dengan kematian-Nya
di kayu salib dan dengan dibaringkannya jasad-Nya dikubur yang belum digunakan
sebelumnya. Melalui peristiwa Paskah,
kita wajib terus menggali arti dan makna peristiwa
tersebut untuk memperdalam dimensi iman kita kepada Kristus.
Penderitaan dan Kematian Kristus
Semenjak
penangkapan-Nya di taman Getsemani, secara teknis Yesus telah mengakhiri
pengajaran-Nya kepada murid dan pengikut-Nya, namun secara praktis Yesus sedang
memberi pengajaran melalui perbuatan-Nya.
Meskipun kemudian dalam perjalanan-Nya menuju kayu salib dan diatas kayu
salib ada perkataan-perkataan yang diucapkan-Nya namun itu lebih bersifat suatu
pernyataan dari kesejatian kemanusiaan dan ketuhanan-Nya. Sebelum kita menggali arti teologis dari
pernyataan sikap Yesus dalam penderitaan-Nya, kita akan terlebih dahulu, mari
kita terlebih dahulu memaknai sikap diam Yesus dalam menghadapi
penderitaan-Nya.
Dia Bersikap Diam Menghadapi
Penderitaan (Matius 26:63)
Yesus
mengambil sikap untuk diam ketika penderitaan menuju salib dimulai. Sebenarnya Yesus tidak diam sepenuhnya namun
Yesus enggan untuk beradu argumentasi seperti layaknya dalam suatu suasana
peradilan. Yesus mengetahui bahwa Dia
tidak dapat dipersalahkan (Mat. 26: 59-60). Yesus sadar bahwa Dia harus meminum
dari cawan yang telah ditetapkan Bapa bagi Dia. Dia melakukan dengan penuh
taat. Apa yang dialami-Nya bukan dari akibat
dari persengkokolan jahat oknum-oknum Mahkamah Agama Yahudi tetapi sebagai
konsekuensi logis dari misi Allah bagi keselamatan umat manusia yang
dikasihi-Nya. Rencana keselamatan Allah
harus terlaksana di jalan derita dan berakhir di bukit Golgota.
Sikap
diam Yesus menjadi momen yang penting dalam pergumulan iman setiap orang
Kristen. Ketika kita menghadapi
pergumulan demi pergumulan secara umum maka kita akan segera bereaksi secara
negatif. Kita akan menyalahkan baik diri
sendiri maupun orang lain atas pergumulan yang terjadi. Pergumulan kita bisa bisa berbeda-beda namun
kita memiliki kemiripan dalam bereaksi.
Belajar
dari Yesus, bahwa tidak ada satupun perjalanan hidup kita yang tidak diketahui
oleh Allah sendiri. Allah mengetahui,
seolah-olah Allah membiarkan namun Dia tanpa kita mengetahui danmenyadarinya
Dia ada di dekat dan sangat dekat kita ketika pergumulan itu datang. Kesadaran inilah yang membuat Yesus memilih
untuk diam tidak bereaksi secara membabi buta meskipun Dia mengetahui kematian
telah menunggu beberapa jam ke depan. Bukan pasrah secara pasif dan tiada daya tetapi
oleh karena iman yang yang tak tergantikan oleh apapun. Kita bisa membandingkan
dengan sikap diam Abraham saat Allah
meminta dia untuk mempersembahkan Ishak (Kej.22:1-19). Pengakuan akan kedaulatan Allah atas
keberlangsungan alam semesta dan manusia (Kis. 4:24) telah memampukan Yesus
untuk mengambil sikap diam menghadapi penderitaan menuju salib.
Bersikap
diam adalah pilihan terbaik ketika perjalanan hidup kita tidak seperti yang
kita harapkan dan inginkan. Ketika semua
pintu tertutup dan segala usaha menemui jalan buntu serta semua teman
meninggalkan kita, itu berarti kita sedang menghadapi pergumulan yang harus
kita akui bahwa sebenarnya kita tidak tahu mengapa hal itu menimpa kita.
Bersikap
diam itu dimulai dari pemikiran tentang hubungan kita dengan Allah. Pengetahuan kita tentang Allah sangat
menentukan sikap kita dalam hidup ini.
Jika kita menganggap Allah tidak mampu menolong kita maka kita tidak
akan pernah memohon pertolongan-Nya.
Jika Allah yang kita sembah adalah Allah yang jauh, tidak peduli, maka
kita enggan untuk diam menanti tangan-Nya terulur atas kita. Perjalanan pengenalan akan Allah menjadi
sangat penting dalam hidup kita, hingga kita mampu berada dalam satu titik
pengenalan seperti pengenalan Abraham tentang Allah bahwa Allah yang kita
sembah adalah Yehova Jireh (Allah
yang menyediakan). Tidak mungkin kita
akan berada di titik pengenalan tersebut bila tanpa kerelaan dan keberanian
untuk menghadapi melewati pergumulan.
Disinilah
pentingnya memiliki pengetahuan tentang Allah yang benar. Pemahaman yang seharusnya yang sesuai dengan
pemahaman Alkitab tenatng Allah bukan hanya berkenan di hadapan Allah namun
sangat berguna dalam menghadapi pergumulan demi pergumulan. Pengaruh ajaran sesat yang menekankan
rasionalitas dan humanitas yang menitikberatkan iman pada kemampuan dan
keunggulan manusia, hanya menimbulkan keangkuhan diri namun tanpa kuasa dalam
menghadapi pergumulan iman. Bersikap
diam percaya kepada pribadi Allah yang berkuasa dengan perspektif yang benar
itulah yang akan memampukan kita menghadapi berbagai tantangan dan pergumulan
dalam hidup kita.
Perayaan Paskah telah berlalu dan sebentar lagi kita menyambut perayaan Kenaikan Yesus, kebangkitan-Nya telah mengubah sejarah dunia sedemikain rupa. Tarik menarik antara Christocentris dengan Anthropocentris telah dan akan terus berkumandang dalam dunia ini. Sikap diam dalam menyikapi kesukaran hidup bukan berarti menganut prinsip let go, let God, atau pasrah karena kebenaran tidak dapat ditemukan yang akhirnya memunculkan subyektifitas. Salib bukanlah suatu gagasan atau ide teologis. Penolakan terhadap salib adalah sama dengan penolakan terhadap kesaksian tentang Allah yang menjadi manusia dalam Yesus Kristus. Salib adalah bukti Christocentris dan inilah yang harus tetap dipertahankan dan dijaga. Sambil terus menapaki hidup dengan memikul iman yang semakin tidak mudah, mari terus dengan hidup dengan diam dan rendah hati serta menunjukkan kasih yang murni dan terus berdoa agar Yesus tetap menjadi pusat hidup kita.
Selamat menyongsong perayaan Kenaikan Yesus !